Indikator
  • Undercontruction

Juguran Selapanan, Ajang Diskusi Serius tapi Santai di Purbalingga

Home / Peristiwa - Daerah / Juguran Selapanan, Ajang Diskusi Serius tapi Santai di Purbalingga
Juguran Selapanan, Ajang Diskusi Serius tapi Santai di Purbalingga Suasana Juguran Selapanan di Kedai Kebun Purbalingga (foto: Sinnangga Angga/Purbalingga TIMES)

PURBALINGGATIMES, PURBALINGGA – Budaya ‘Ngendong’ (bertamu dalam istilah Jawa) untuk juguran (duduk ngobrol sambil minum kopi atau teh) yang sudah ribuan tahun berjalan sebagai tradisi silaturhami di Jawa mulai jarang dilakuan oleh masyarakat pedesaan di Jawa pada umumnya, dan Purbalingga pada khususnya.

Begitu prolog yang dilontarkan oleh budayawan Purbalingga, Agus Sukoco, dalam mengawali pembicaraan pada acara Juguran Selapanan yang digelar setiap selapan (35) hari sekali di caffe Kedai Kebun, Purbalingga, (12/09/2017) malam.

Istilah ‘Ngendong’ sendiri bermakna kunjungan yang menurut Agus sukoco adalah kunjungan tidak formal antar tetangga tanpa kepentingan apapun kecuali hanya semata-mata berkunjung dan kemudian ngobrol santai.

“Dulu masyarakat kita punya tradisi berkunjung satu sama lain yang tidak memiliki kepentingan sama sekali, kunjungan itu tidak lebih hanya untuk duduk bersama tetangga dan ngobrol apa adanya. biasanya sambil minum kopi atau teh,” ujar Agus Sukoco.

Duduk bersama satu meja dengan tetangga sebelah untuk ngobrol tanpa kepentingan itu lazim dilakukan pada malam hari. Sejalan dengan perkembangan zaman, di mana setiap orang mulai mengedepankan ego dan kepentingan, maka tradisi  juguran mulai tidak lagi nampak dalam kehidupan masyarakat secara umum.

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com